Selasa, 09 Juni 2009

KEBAHAGIAAN DAN KEBAIKAN

Kebahagiaan dan Kebaikan

~Makna Kebahagiaan dan Kebaikan
Mempertanyakan suatu makna, merupakan suatu upaya yang bebas dari jeratan waktu dan ruang. Makna menjadi suatu yang berorientasi kepada kebebasan, kejujuran dan objektifitas. Makna adalah sesuatu yang mampu hadir dengan kepolosan, tanpa harus dimanipulir. Mempertanyakan makna, berarti berupaya menelanjangi seseuatu apapun saja yang hadir dalam gejala atau fenomena dalam cangkupan ruang dan waktu. Oleh karena itu memprtanyakan makna kebahagiaan, berarti upaya untuk mencari kejujuran dan objektifitas yang terlepas dari cakupan ruang dan waktu sebagai tuntutan otentisitasnya .
Secara etimologis, kebahagiaan berarti keadaan senang tentram, terlepas dari segala yang menyusahkan atau secara negatif dapat dikatakan, kebahagiaan adalah lawan dari penderitaan. Ini artinya, kebahagiaan adalah ssuatau keadaan yang berlangsung (a lasting condotion ) dan bukan perasaan dan emosinal yang berlalu .
Menurut Socrates, tujuan tertinggi kehidupan manusia adalah membuat jiwanya menjadi sebaik mungkin. Jiwa adalah sebagai intisari kepribadiaan manusia. Atau dengan kata lain, Socrates mengatakan bahwa tujuan kehidupan manuisa adalkah kebahgiaan (eudaimonia), asal istilah ini dari bahasa Yunani. Sedangkan apa yang dimaksud dengan kebahagiaan ini tak pernah dipersoalkan oleh Socrates, sehingga muridnya kemudian memberikan pendapat sendiri-sendiri, yang satu bertentangan dengan yang lain.
Asal mula makna eudemonia (kebahagiaan); bukanlah sesuatu yang bergantung pada keadaan diluarnya atau kabaikan-kebaikan fisik, tetapi tentang perbuatan yang benar yang dilakukan secara sengaja. Kondisi yang sesuai dengan jiwa sangat penting dan tugas dari filsafat adalah memlihara, melatih dan mengobati jiwa .
Kata eudaimonia dalam bahasa Greek secara lateral berarti keadaan wujud dibawah perlindungan sikap jiwa, a good jenius dan happiness sama sekali tidak memadai untuk menterjemhkan kata ini. Happiness sebenarnya adalah biasanya dipakai sebagai suasana pikiran yang berakhir dari atau mengantarkan pada beberapa perbuatan kita. Bahkan Aristoteles memberi jawaban atas pertanyaan “apakah eudaimonia itu?, yaitu aktifitas yang sesuai dengan keutamaan atau bahwa ia adalah kontemplasi, yang menunjukkan bahwa pada eudaimonia bukan suatu keadaan jiwa sebagai akibat atau mengantarkan aktifitas tertentu, tetapi sebuah nama untuk aktifitas itu sendiri. Apakah eudaimonia? Sama dengan bertanya ‘apakah akktifitas yang paling baik dari kemampuan manusia?
Untuk mengatakan bahwa kebaikan tertinggi manusia adalah eudaimonia adalah bentuk tautology dan bukan jawaban atas pertanyaan etika. Kita boleh mengatakan bahwa seorang berada di bawah semangat baiknya, berbeda di sebuah kehidupan yang baik tanpa ada perasaan frustasi di sekeliling materi yang dapat dipikirkan bersama seorang teman atau keluarga. Jadi suatu nama untuk tinggal (berada) adalah sebagai eudaimonia. Aristoteles dalam karya yang lain, secara jelas membedakan kesenangan dari aktifitas-aktifitas yang mengantarkannya.
Bagaimanapun seorang moralitas yang datang kemudian, seperti Jeremy Bentham dan John Stuart Mill, membatasi ‘kebahagiaan’ sebagai kesenangan dan terlepas dari yang menyusahkan; dan masih ada beberapa justifikasi baginya dalam pemakaian kata Inggris ‘heppiness’, juga tentang kebahagiaan sebagai suatu akibat suasana pikiran dari aktifitas tertentu dicoba untuk membedakannya dari kesenangan mengenai dasar-dasr mental bukan secara badani, lamanya bukan sebentar, rasional bukan emosional.
Dalam kenyataan, kata-kata ‘happiness’ paling banyak dihandiri. Untuk mengatakan bahwa seseorang adalah bagai sama halnya dengan berkata bahwa secara penuh menikmati apa yang ia kerjakan dan perlakukan tanpa ada rasa frustasi dan kesulitan. Sebuah kata kerja menunjukkan cara itu di dalam pekerjaan seseorang dan bukan sebagai akibat atau oleh produk pekerjaannya. Sebagaimana kehadiran moralitas menghadiri kesulitan-kesulitan tentang definisi ini dan devergensi makna antara ‘eudaimonia’ dalam bahasa Greek dan happiness dalam bahasa inggris. `
Bagi filsof modern, Descartes, menjelaskan bahwa kebaikan tertinggi (kebahagiaan) adalah ketentraman jiwa yang sempurna. Kebahagiaan tidak sama dengan kegembiraan dan kesenangan. Sebab secara umum boleh jadi seseorang merasa bahagia meskipun sementra menderita kesedihan sebagaimana seseorang yang tidak mengalami ketidakbahagiaan yang kronis juga bias mengenal saat-saat gembira. Kebahigiaan bukanlah suatu disposisi atau sikap jiwa yang riang gembira, meskipun tidak disangkal bahwa hal-hal tersebut bias menolong kearah kebahagiaan.
Sedangkan faktor yang dipentingkan dalam mencapai kebahagian adalah usaha untuk mempertahankan ‘kepusan’ yang telah didapat itu selama mungkin atau terus-menerus. Mungkinkah itu bias terjadi, kepuasan saat kita merasa kemudian kita coba/ usahakan supaya abadi, kita langgengkan hal itu maka tidak mungkin. Dengan demikian kebahagiaan adalah sekedar nama untuk menyatakan keadaan sadar kita bahwa keinginan kita telah atau sedang dipuaskan .
Sedangkan kebahagiaan, Bothius memberikan definisi ialah suatua keadaan yang membuat sempurna dengan terkumpulnya seluruh kebaikan( a state made perfect by the aggregate of all good things). Thomas Aquinas memberi definisi, kebahagiaan ialah suatu kebahagiaan sempurna yang meninakbobokan seluruh kegiatan nafsu (the perfect good with lulls the appetite altogether).
Dengan menyimak pengertian di atas, maka dapat diambil suatu pengertian bahwa kebahagiaan adalah keinginan yang terpuaskan karena disadari memiliki sesuatu yang baik. Seseorang itu bahagia sempurna karena ia secara utuh memiliki yang baik yang sempurna. Kebahagiaan sempurna itu dating dari hal yang sepenuhnya memuaskan segala keinginan kita.
Adapun kesenangan hidup menurut Plato, bukanlah memuaskan hawa nafsu di dunia ini. Kesenangan hidup diperoleh dengan pengetahuan yang tepat tentang barang-barang yang dituju. Di bawah ide kebaikan orang harus mencapai terlaksananya keadilan dalam pergaulan hidup. Baik tidak mau berbuat celaka dari mereka yang merugikan karenanya.
Kemudian kebaikan, demikian Sokrates adalah pendorong dari segala perbuatan. Perbuatan yang salah itu dilakukan karena yang melakukan tidak mengetahui bagaimana sebenarnya. Saya yakin demikian Sokrates , bahwa tidak ada seorangpun berbuat dosa dengan sukarela. Mereka yang berbuat demikian tentu menentang kehendak mereka sendiri. Sokrates mengutarakan bahwa budi itu adalah tahu, dan inilah intisari daripada segala etikanya.
Alat untuk mencapai kebahagiaan menurut Aristoteles adalah rasio. Menurutnya ‘kebaikan tertinggi’(summum bonum) dapat dicapai dalam kesendirian dan renungan pikiran (konyemplasi). Kebaikan tertinggi itu adalah keutamaan tertinggi, karena ia berhubungan dengan akal. Kalau akal terlatih akan dapatlah akal itu memberi arah kepada kehidupan, sehingga mencapai keunggulan dan oleh sebab itu pula kebahagiaan dapat dicapai. Inilah arti sebanarnya dari perwjudan dari hakikat manusia itu sendiri. Kebajikan intelektual bagi Aristoteles tinghi nilainya, karena dasarnya adalah pengetahuan tetang prinsip-prinsip etis, sedangkan kebajikan etis yang menguasai perasaan yang dalam adalah hasil dari cara hidup yang baik dengan jalan pembentukan kebiasaan berpikir, berkemauan dan berbuat yang baik secara sadar. Tidak ada kebahagiaan dalam kegembiraan yang tidak bernilai baik. Kebahgian itu identik dengan kebikan. Kebaikan terkandung menyatu dalam kebahagiaan.


Refrensi Buku

~Sahal, Muktafi. Kebahagiaan, kajian filsafat akhlak, (Target Press Surabya); Surabaya,2003.
~Shaleh Harun, Abdul Munir Mulkhan. Latar Balakang Umat Islam Menerima Pancasila Sebagai Azas Tungga ,l (Aquarius) ; yogyakarta, 1986.
~W.Poespoprodja. Filsafat Moral, (Remadja Karja); Bandung,1986.

PEREMPUAN MENJADI IMAM DI MATA AMINA WADUD MUHSIH

BAB I
PENDAHULUAN
aware

A. Latar Belakang
“Khaalif, tu’raf!”. Nyelenehlah kamu, kamu akan terkenal, begitu kata pepatah Arab. Bahkan Ali ra pernah mengatakan, bul maa'a zam-zam (kencingilah air zam-zam). Atau, dalam istilah Latin: “esto alius, notus es!”.
Laju informasi yang cepat dapat mengetahui kejadian di belahan dunia manapun Pada Hari Jumat, 18 Maret 2005, dunia Islam dikejutkan oleh sebuah peristiwa di sebuah gereja di Amerika Serikat. Ketika itu, seorang tokoh Islam Liberal yang dikenal aktif memperjuangkan kesetaraan gender (gender equality), bernama Prof. Dr. Aminah Wadud, menjadi imam 100 jemaah lelaki dam perempuan serta menjadi khatib untuk salat Jum'atnya di sebuah Gereja di Universiti Commanwealth di New York.
Jama’ahnya berjumlah sekitar 100 orang bercampur laki-laki dan wanita. Dari gambar-gambar yang disiarkan oleh media massa terlihat shaf shalat bercampur aduk antara laki-laki dan wanita. Shaf laki-laki dan wanita sejajar. Disamping itu, muazinnya seorang wanita yang tidak mengenakan jilbab, tetapi ia ikut salat jumat juga. Para ulama di dunia Islam, seperti Syaikhul Azhar dan Yusuf Qaradhawi, telah memberikan kritik keras terhadap peristiwa tersebut. Sementara Abdul Aziz al-Shaikh, Mufti Agung Arab Saudi, menganggap Amina sebagai “musuh Islam yang menentang hukum Tuhan” (Associated Press, 19/3). Beberapa koran di Mesir dan Arab Saudi menempatkan berita itu di halaman utama, dan menganggap Amina sebagai “wanita sakit jiwa” yang berkolaborasi dengan Barat kafir untuk menghancurkan Islam (Associated Press, 19/3) .
Tindakan kontroversial yang diambil Aminah Wadud tiga tahun yang lalu tersebut nampaknya masih cukup menarik diperbincangkan dikarenakan di dalamnya secara langsung maupun tidak langsung sesungguhnya mengandung multi aspek yang perlu diteliti lagi. Katakanlah aspek social, biologi, psikologi, dan tentu saja agama. Dan pada akhirnya semua aspek ini nampak mengerucut pada masalah gender yang sebagaimana kita ketahui adalah suatu issu yang sudah lama diperjuangkan oleh Amina Wadud. Apakah benar demikian?
B. Rumusan Masalah
Dengan kapasitas sebagai orang yang masih awam dalam mempelajari Islam, maka segala bentuk tindakan 'ijtihad' bisa diterima selapang-lapangnya, sebatas kekosongan pikiran dan ketumpulan kemampuan analisis dalam mengkritisi tindakan "brave and applausable" tersebut, atau sebaliknya, kita lakukan tindakan cerdas: pelajari sedalam-dalamnya dengan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Siapakah Amina Wadud Muhsin itu?
2. Bagaimanakah pemikirannya?
3. Tokoh siapakah yang mempengaruhi dan dipengaruhi pemikirannya?
4. Bagaimanakah analisis penulis mengenai pendapat Amina Wadud Muhsin tentang bolehnya perempuan menjadi imam sholat dan pemberian khutbah Jum’at?
C. Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah berikut diantaranya adalah:
1. Memenuhi tugas ujian akhir semester mata kuliah Pemikiran Modern Dunia Islam
2. Menambah referensi mengenai Aminah Wadud Muhsin bagi civitas akademika Ushuluddin, IAIN Sunan Ampel Surabaya
3. Memperdalam pengetahuan mahasiswa mengenai riwayat hidup dan ide Aminah Wadud Muhsin.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Biografi Singkat

Amina Wadud dilahirkan di Nigeria. Adapula yang berpendapat bahwa dia dilahirkan pada 25 September 1952 di Bethesda, Maryland . Bapanya merupakan seorang pendeta yang taat sekaligus paderi Methodist dan ibunya pula berketurunan hamba dari Arab, Berber dan Afrika pada kurun ke-lapan Masehi .
Amina Wadud adalah seorang Mualaf dari Amerika Serikat . Dia mengucapkan shahadat pada waktu kuliah S1 di University of Pennsylvania pada tahun 1972, bertepatan dengan thanksgiving day sebelum mengetahui asal-usul keluarga sebelah ibu beliau. Dia belajar bahasa Arab dan Quran di al-Azhar University di Mesir sehingga mendapat gelar doktor , dan gelar Ph.D nya diraih di University of Michigan pada tahun 1988. Ia merupakan seorang yang aktif di berbagai organisasi perempuan di Amerika, berbagai diskusi tentang perempuan, serta gigih menyuarakan keadilan Islam terhadap laki-laki dan perempuan di berbagai diskusi ilmiah pada beberapa daerah maupun Negara. Ia mendirikan organisasi Sister Islam di Malaysia . Ketajaman analisisnya menjadi salah satu inspiasi para feminist muslim setelahnya untuk menggeluti issu-issu perempuan .
Amina Wadud kini berkhidmat sebagai Profesor Madya Pengajian Islam (Associate Professor of Islamic Studies) di Universiti Commonwealth Virginia (Virginia Commonwealth University) di Richmond, Virginia, Amerika Syarikat. Sebelum itu beliau menyandang jawatan Profesor Madya di Universiti Islam Antarabangsa Malaysia, untuk tempoh yang lama semenjak 1989 sekaligus mengajarkan mata kuliah Revealed Knowledge and Heritage. Dia berpahaman Wahabi dan tepatnya seorang yang berpahaman Islam Liberal .
Aminah Wadud adalah berlatar belakangkan pendidikan liberal dan sekular. Walaupun bidang pengajian dan kajian berhubung dengan Islam dan menghasilkan buku `Qur`an And Woman`` dia dipengaruhi pandangan sekular dan mempersoalkan tentang hukum hakam yang ditafsirkan oleh ulama terhadap al-Qur`an dan juga Sunnah. Beliau seolah-olah menganjurkan penentengan, bahkan pemberontakan terhadap apa yang disifatkan ketidakadilan terhadap wanita.
Dalam bukunya, Inside The Gender Jihad, ia menulis bahwa ia telah menjadi the single parent lebih dari 30 tahun bagi empat orang anaknya. Hal ini, menurutnya, merupakan awal jihadnya dalam memperjuangkan hak-hak keadilan bagi para wanita Islam.
Sikap Amina yang tidak menyenangkan khalayak berhubung dengan persoalan Islam dapat dinilai dari peristiwa di mana beliau dijemput kepersidangan mengenai HIV/AIDS pada bulan Mei 2003 di Kuala Lumpur membentangkan kertaskerja di samping kertas-kertas kerja perwakilan peringkat antarbangsa termasuk dari Afrika mengenai bagaimana Islam seharusnya menangani masalah HIV/AIDS.

B. Ide dan Pemikiran

Secara garis besar, pemikiran yang diusung oleh Aminah Wadud adalah pemikiran mengenai gender dan feminisme. Sebagaimana sebagian orang, Aminah “mencurigai” peran ulama Fikih dengan menganggap bahwa Fiqh yang disusun di dalam masyarakat yang dominan laki-laki, seperti di kawasan Timur Tengah ketika itu, sudah barang tentu akan melahirkan fikih bercorak patriarki dan berbau missoginis yang bias gender.
Dalam situs Muslim Wake Up!, panitia shalat Jum’at dengan imam perempuan tersebut menjelaskan mengenai acara yang terkenal dengan sebuatan ''Historic Jum'a'' bahwa agenda tunggal mereka adalah membantu umat Islam merefleksikan sifat dasar Islam yang egaliter.
Sebagai agama yang membenarkan dan melengkapi ajaran-ajaran sebelumnya, Islam datang sebagai rahmatan lil alamin, rahmat untuk sekalian alam. Salah satu ajarannya yang sangat bernilai adalah keadilan antara sesama umat manusia.
Ajaran Islam mengenai keadilan antara laki-laki dan wanita, menimbulkan kegelisahan di diri Amina Wadud ketika melihat keterpurukan wanita Islam di segala bidang. As a fully human agency, ia mulai mencari penyebab dari keterpurukan tersebut dengan melihat kepada sumber ajaran Islam terkait dengan wanita. Ia dapati, bahwa mayoritas penafsiran dan hasil hukum Islam ditulis oleh ulama pria dan seringkali membawa bias pada pandangan mereka.[1] Menurutnya, budaya patriarki telah memarginalkan kaum wanita, menafikan wanita sebagai khalifah fil ardh, serta menyangkal ajaran keadilan yang diusung oleh al-Qur`an. [2]Ia tertantang dan berjuang (jihad) untuk melakukan reinterpretasi terhadap masalah tersebut dengan menggunakan metode Hermeneutik.[3] Kegelisahan ini akhirnya menginspirasikan ditulisnya buku Qur`an and Woman, kemudian Inside The Jihad Gender, Women’s Reform in Islam, karya yang membuat sebuah reformasi terhadap wanita islam dan merupakan grand proyek intelektualnya sehinggga pemikiran dan perannya mulai diperhitungkan .
Sekaitan dengan dirintisnya fikih yang berkeadilan jender oleh feminis Islam, maka di samping mengutip pemikirannya dalam buku Inside The Gender Jihad, Women’s Reform In Islam, penulis juga banyak mengutip -bahkan mayoritas- pemikiran yang dirangkumnya dalam karyanya Qur`an and Woman di atas. Hal ini dikarenakan fikih yang ia rintis nantinya adalah produk dari reinterpretasinya terhadap interpretasi ulama terdahulu terhadap ayat dan hadis tentang wanita.
Berikut ini akan diuraikan beberapa hal terkait dengan ayat-ayat tentang keadilan jender dalam al-Qur`an serta sejumlah kontroversi hak dan peran wanita yang kerapkali ditafsirkan sebagai bentuk superioritas pria atas wanita .
1. Penciptaan manusia
Meskipun terdapat perbedaan antara perlakuan terhadap pria dan perlakuan terhadap wanita ketika al-Qur`an membahas penciptaan manusia, Amina berpendapat tidak ada perbedaan nilai esensial yang disandang oleh pria dan wanita. Oleh sebab itu tidak ada indikasi bahwa wanita memiliki lebih sedikit atau lebih banyak keterbatasan dibanding pria.
Semua catatan al-Qur`an mengenai penciptaan manusia dimulai dengan asal-usul ibu-bapak pertama : “Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan ibu-bapakmu dari surga..”(QS, 7:27). Amina menjelaskan bahwa kita menganggap ibu-bapak kita yang pertama serupa dengan kita. Meskipun anggapan ini benar, tetapi tujuan utama bab ini lebih menekankan pada satu hal: proses penciptaan mereka. Semua manusia setelah penciptaan kedua makhluk ini, diciptakan di dalam rahim ibunya.
Demikian pula pandangannya mengenai penafsiran QS. An Nisa’ (4:1)bahwa istilah nafs dalam ayat tersebut tidak terbatas pada satu gender saja, misalnya laki-laki. Begitu pula tidak disebutkan secara eksplisit bahwa perempuan diciptakan dari nafs Adam saja. Karena itu, kedudukan laki-laki dan perempuan di hadapan Tuhan adalah samadan sederajat. Bahkan, sesuai QS. Al Ahzab (33:35)-baik laki-laki maupun perempuan- sama-sama berhak menerima pahala dari Tuhan . Bisa juga kita kroscek lalu kita renungi hakikat pesan Ilahi dalam QS. An Nisa’(4:32), QS. Al A’raf(7:46), QS. Al Ahzab (33:32), dan beberapa ayat lain.
Qowwamnun



C. Tokoh yang Mempengaruhi dan Terpengaruh Pemikiran Aminah Wadud
D. Analisis

Menurut Habermas segala sesuatu harus dipahami berdasarkan motif kepentingan sosial (social interest) yang melibatkan kepentingan kekuasaan (power interest). Pemahaman seperti ini sudah sangat jamak dikalangan aktifis liberal dan postmodernis. Mereka sendiri memahami Islam dengan cara yang sama. Islam bagi mereka adalah produk dari sebuah kepentingan dan kekuasaan. Dan karena itu mereka tidak merasa bersalah jika memahami Islam juga untuk kepentingan tertentu. Itulah yang, kalau boleh saya katakan, politik pemikiran.
Dalam hal ibadah, filosofis, yang berlaku adalah: al-ashlu fi al-ibadah al-hurmah illa ma dalla al-dalil 'ala ibahatihi (bahwa hukum asal dalam ruang ibadah adalah ikut pada apa yang diperintahkan Tuhan- tidak boleh menambahi, ataupun mengurangi). Atau dalam bahasa lain: al-ittiba' fi al-dini, wal ibtid'a fi al-dunya (dalam urusan ubudiah-agama-, kita hanya patuh pada apa yang diperintah Tuhan, sedang untuk masalah duniawi, menyangkut hubungan sosial/mu'amalah, kita berlomba-lomba untuk terus berkarya, berkreasi seinovatif dan semodern mungkin).
Filosofis ini amat bijak dan berwatak antroposentris. Tuhan tidak menghendaki hambanya menambah beban berat dalam hal ibadah, cukup melaksanakan apa-apa yang secara eksplisit diperintahkan Tuhan. "Pikirkan saja nasib dirimu, hidupmu!" kira-kira begitu kata Tuhan.
Membaca praktek ritual jum'at yang dilaksanakan Amina Dawud, cs, tempo hari, minimal, ada tiga problem hukum (fiqh) yang perlu disoal. Pertama, apakah boleh seorang perempuan menjadi imam bagi makmum laki-laki? Kedua, bolehkah seorang perempuan menjadi khatib(ah) jum'at? Ketiga, adakah dalil, atau pendapat fuqaha yang memperbolehkan shalat jum'at ala Dr. Amina Wadud, di mana perempuan bercampur satu bari (shaf) dengan laki-laki, apalagi beberapa diantaranya tak berkerudung, termasuk muadzinnya.
Di bawah ini, saya akan coba mengurai secara ringkas jawaban ketiga pertanyaan tersebut:
Untuk soal pertama: Dalam masalah ini ulama berbeda pendapat. Mayoritas ulama, termasuk mazhab 4- Mâlikiyah, Ahnâf, Syâfi'iyyah, hanâbilah- mengatakan tidak boleh seorang perempuan menjadi imam untuk makmum laki-laki. Bahkan mazhab Maliki lebih keras lagi mengatakan, seorang perempuan mutlak tidak boleh menjadi imam shalat, baik makmumnya laki-laki, maupun perempuan.
Sementara minoritas kalangan ulama yang diwakili Imam al-Thabari, Abu Tsaur, al-Muzani, dan Muhyi al-Din al-'Arabi, menyatakan bahwa seorang perempuan boleh menjadi imam shalat (mutlak), baik makmumnya laki-laki, maupun perempuan. Mereka bersandar pada hadits Ummi Waraqah -riwayat Abi Dawud&al-Daraqutni-, di mana Nabi mengizinkan Ummi Waraqah menjadi imam shalat bagi keluarganya. Padahal, diantara keluarganya (ahlu baitiha) ada yang berjenis kelamin laki-laki yaitu laki-laki kecil dan laki-laki tua. Dalil ini dulu dianggap sebagi dalil para minoritas, tetapi seiring waktu banyak peneliti hadits menyatakan bahw hadits ini sohih dan tidak cacat yang menyebabkan kelemahanya sehingga dapat diamalkan , sedangkan hadits yang melarang –HR. Ibnu Majjah dan HR. Ahmad disinyalir lemah karena ada rowi yang lemah dan cacat- Apalagi ditemukan fakta bahwa Ummu Waroqoh termasuk salah satu tenaga al Qur’an. Dalam kasus ini disimpulkan bahwa perempuan yang menguasai al Qur’an dan lebih menguasai al Qur’an daripada laki-laki keluarganya boleh menjadi imam salat pria ahli rumahnya.
Dan bila kita analogikakan kasus Ummi Waroqoh dengan kasus Aminah Wadud, kita akan mempertanyakan ulang, apakah Aminah Wadud benar-benar lebih menguasai al Qur’an disbanding laki-laki jama’ahnya, padahal sebagimana ditulis majalah Gatra bahwa Aminah Wadud sempat berhenti setelah membaca Al Fatihah sehingga makmum laki-laki di belakangnya yang mengingatkan bacaan surat? Juga apakah semua jama’ah itu ahlu dzarriha (keluarganya)?. Pada titik ini, apa yang dilakukan Amina Wadud, pada tataran wacana, bukanlah hal baru. Yang baru di sini ranah aplikasinya. (Ibn Rusyd dengan sangat baik mendokumentasikan perdebatan ini di: Bidayah al-Mujtahid Wa Nihayah al al-Maqashid, cet. Dâr al-Manâr, jilid 1, hal. 125) - (lihat juga pendapat Imam Syafi'i dalam al-Umm, cet. Dâr al-Fikr, Beirut,1990, jilid 1, hal 191)
Soal kedua, tentang bolehkah seorang perempuan menjadi khatib jum'at? Sejauh bacaan saya, tidak satu ulama pun yang memperbolehkan. Hal ini ditegaskan juga oleh Mufti Mesir: Syeikh 'Ali Jum'ah (Sawt al-Azhar, terbitan 25/3). Dan karena problem inilah saya kemudian berkesimpulan shalat Jum'atnya Dr. Amina Wadud, cs, bermasalah. Sejauh bacaan saya pula, tak ada dalil yang melarang, sehingga amalan yang terkategori muamalah ini boleh-boleh saja dilakukan apabila benar-benar darurat –seperti tak adanya lelaki yang mampu berkhutbah atau alim, tapi ini terkesan khawadts (mustahil dan dibuat-buat ) saja- serta tidak dikhawatirkan menimbulkan fitnah.
Soal yang terakhir, dari berbagai penelusuran beberapa sumber, tampaknya praktek shalat yang dilakukan oleh Amina Wadud, di mana shof (barisan) shalat antara laki-laki dan perempuan dicampur, selain menyisakan kesan provokatif, juga sangat problematis. Pertanyaan yang timbul kemudian: haruskah ideologi
kesetaraam gender diseret ke ruang ibadah? Apa manfa'atnya?

Menurut penyusun sebenarnya akan menjadi lebih bermanfaaat jika tenaga kita lebih difokuskan pada masalah-masalah social, seperti masalah kemiskinan, kelaparan, kebodohan, bahkan penjajahan yang sudah lama berkecamuk di Negara palestina, Iran, Irak, atau Negara –negara Islam lainnya dibandingkan dengan memikirkan masalah ibadah yang harusnya kita patuhi dalil-dalil yang kita yakini qoth’i. Bahkan penyusun curiga ini hanyalah scenario agar konsentrasi umat Islam terpecah dari suatu permasalahan pokok (grand problem) yang tengah berkecamuk saat itu. Dalam bahasa lain yaitu manajemen konflik atau ……..
Ada yang beranggapan bahwa feminisme lahir guna mendobrak tradisi yang islami yang cenderung oleh penuduh dianggap sebagai belenggu kebebasan kaum wanita. Hal itu rasanya tidak cukup adil dipersalahkan demikian. Kalau mau jujur melihat ke masa lampau, justru Islamlah yang telah mengangkat harkat derajat wanita sejajar dengan pria. Tapi, kenapa sekarang setiap ‘pendobrakan’ yang berkaitan dengan wanita hampir selalau tertuju kepada masyarakat Islam?
Sebagai bukti, tak ada paus, cardinal, pendeta, maupun rabi orang Yahudi yang berasal dari perempuan. Memang pernah pemeluk Katolik Roma mengusulkan ada pendeta yang berasal dari kaum hawa, tapi itu masih sebatas tulisan dan belum ada tindak lanjutnya hingga sekarang. Lalu mengapa para feminist jarang yang menengok ke sana? Mengapa para feminist lebih suka melirik Islam sebagai lading percobaan mereka.




E. Kesimpulan

- Kemajuan teknologi di dunia Barat telah membuat banyak bangsa di dunia ketiga menjadi silau dan cenderung untuk meniru segala hal yang berasal dari Barat.
- Kecenderungan tersebut membuat sebagian pemikir Islam berusaha untuk menyesuaikan ajaran Islam dengan tradisi Barat.
- Ulama sebagai penyangga moral umat harus berperan kuat menjaga umat untuk tidak terputus dari khazanah keilmuan Islam yang bersumber dari Alquran dan Sunnah



Sinopsis
Perempuan dan laki-laki hanyalah kategori spesies manusia. Keduanya dikaruniai potensi yang sama atau sederajat, dari ihwal penciptaan, keberpasangan, hingga balasan yang kelak mereka terima di akhirat. Satu-satunya nilai pembeda di antara keduanya adalah takwa, yang paling tepat dipahami dalam kerangka sikap dan perbuatan. Itulah yang ditegaskan Alquran, rujukan dari segala rujukan keislaman.
Namun, seiring dengan tergantikannya peran sentral Alquran oleh tafsir-tafsir yang nyaris semuanya ditulis laki-laki, perempuan terus terkekang dalam pandangan dan kehendak masyarakat yang berpusat pada laki-laki. Akibatnya, tingkat partisipasi dalam masyarakat dan tingkat pengakuan akan pentingnya sumberdaya perempuan tak kunjung meningkat.
Buku ini berupaya menghidupkan Alquran dalam laju perkembangan peradaban dan mengembalikannya sebagai kekuatan pengubah dunia. Lewat analisis rincinya atas teks dan kata-kata kunci Alquran, Amina Wadud menentang penggunaan teks dan kata-kata itu untuk membatasi peran publik dan privat perempuan, terlebih untuk membenarkan kekerasan terhadap mereka. Pembacaan Wadud memberikan landasan sah untuk menentang perlakuan tak adil yang secara historis telah dialami perempuan dan secara hukum terus menggejala dalam komunitas-komunitas muslim.

Rabu, 03 Juni 2009

mustanir (?!)

Suatu hari seorang teman mengatakan bahwa jubah dan jilbab hakikatnya hanyalah distorsi kebudayaan Arab. Saat itu aku hanya bisa diam. Ingin berontak membantah, namun aku juga tak punya jawaban jitu untuk menengkisnya. Maklumlah aku baru sekian bulan menjadi mahasiswa AF, sedangkan beberapa temanku ternyata sudah cukup umur di atasku, jadi pantaslah kalau merekayang sudah banyak pengalaman punya banyak “pikiran nakal”.
Hari ini, Jum’at tanggal 5 Oktober 2007 yang juga bertepatan dengan tanggal 23 Ramadhan 1428 H, aku menemukan sebuah ayat di QS. At Taubah yang memaksa otakku menemukan jawaban sementara ini. Yaitu: Kalau memang ayat maupun syariat itu dibuat berdasar keadaan masyarakat saat itu saja maka alangkah sempitnya Islam. Bukankah Islam ada untuk seluruh umat manusia, bukan hanya untuk orang Arab saja?. Memang banyak budaya Arab yang diambil atau dihapus oleh Islam, tetapi bukankah meskipun itu budaya bila sudah diadopsi atau dibuang ketetapannya, maka sama hukumnya dengan syariat? Contohya poligami, khamr, dan tentu saja jilbab (jubah)
Hal ini senada dengan pernyataan beberapa teman bahwa kalimat ‘di dalamnya (surga) mengalir sungai-sungai’ hanyalah symbol kenikmatan yang tak terkira bagi masyarakat Arab yang memiliki territorial dan geografis sulit air. Bila sudah ada stereotype demikian, maka dimanakah keuniversalan al Qur’an? Layakkah kita meragukan jaminan Allah bahwa Dia Yang Pasti Terbebas dari Aib dan Salah akan menjaga keaslian al Qur’an selamanya, dengan kata lain bahwa ajaran al Qur’an akan sesuai di semua masa?


********* ``````````````````````````````````````````````````````*********

Pada hari yang lain seorang sahabati bertanya, “Mengapa dalam agama ada banyak ketimpangan gender?”
“Maksudny”
“Iya, lihat saja, mengapa imam harus laki2, mengapa warisan laki2 harus lebih banyak, dan yang paling ingin kutanyakan padamu yaitu mengapa Tuhan selalu memakai kata ganti laki2, huwa dalam bahasa Arab dan he dalam bahasa Inggris?”
“Baiklah kucoba jawab dengan kemampuanku yg minim ini ya. Sekarang bayangkan kalau kamu sholat di belakang lelaki dan orang laki-laki sholat di depanmu. Dengan sholat di belakang laki2 kita sbg perempuan gak akan merasa syahwat kita terangsang, kecuzli kalau laki2 itu orang yg kita sukai lhoya. Tapi bila perempuan yang mengimami laki2, menurut ilmu psikologi yg say abaca dan omongan teman laki2, itu sangat rawan membuyarkan konsentrasi. Itu pertama. Kedua, seorang p[ermpuan tidak bisa selamanya sholat, adakalanya ia diharamkan shalat. Perempuan juga cenderung direpoti hal2 kecil seperti harus segera masak, resah bila anak nangis, dsb.
Warisan laki2 lebih banyak? Siapa bilang? Sebetulnya kitalah yg lebih banyak. Bukankah setelah mendapat warisan satu bagian kita juga mendapat warisan milik suami yg dua bagian itu? Sedangkan laki2 setelah dapat dua bagian harus dibelanjakan untuk kebutuhan rumah tangga (istri), karena laki2 wajib hukumnya menafkahi keluarga.
Dalam bhasa Arab, dhomir mudzakkar berarti suatu keumuman, ia mencakup makna laki2 dan permpuan. Sehingga tepatlah pemakaiannya karena memang Tuhan itu tidak laki2 dan tidak pula perempuan. Bahkan menurut informasi yg baru saja saya peroleh dari seorang teman, He dalam bahasa inggris juga berstubtansi plural, ia tidak berarti laki2 saja tapi juga perempuan. Wallahu a’lam.

**********``````````````````````````````````````````````````````````************
Mengapa suhu pada saat musim semi begitu dingin?
Apa unsure yg menstruktur kuku?salah 1 nya ternyata adalah keratin yg berfungsi melenturkan kuku. Yg lain masih kucari infonya.
Mengapa bulu kuduk kita berdiri saat takut?
Mengapa keringat dingin keluar saat kita gugup?

**********’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’*************
Ternyata rambut kita berjumlah kurang lebih 100.000 an lho. Dan tiap harinya akan ada kerontokan sekitar 40-100 helainya. Salah satu unsure penyusunnya adalah keratin, sama seperti yg di kuku. Ketombe ada bisa karena gen, hormonal (kelembapan kulit kepala dan banyaknya minyak), stress, kotor, dll.

**********’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’’*************

Setelah kejadian antara Syawal 1427 hingga syawal 1428 akhirnya aku menyadari bahwa hidup adalah scenario Allah yang sangat ajaib.Ia indah dan berantai. Ia bagaikan puzzle. Keberadaan personal yang satu dalam kehidupan orang lain ternyata adalah pelengkap puzzle atau sebagai mata rantai untuk dapat menyambung dengan mata rantai selanjutnya. Kehadirannya yang hanya setahun dalam kehidupanku bukanlah kesia-siaan atau sekedar kebetulan belaka, melainkan juga untuk mengantarkanku pada Ali Kecil, PKS, HTI, jurnalisme, dan jubah yang semua itu pernah kuangankan, tapi sempat kuragukan di tahun-tahun pertama perkuliahan. Karenanyalah aku sampai di titik nadhir ini, di hari ini (300108), seperti ini, tengah menggengam selaksa cita dan target sebelum usia 22 tahun, sebelum ajal menjemput. Kehadiran keluargaku dalam kehidupannya mungkin sekali juga adalah salah satu puzzle tercecar yang harus ia susun untuk mengutuhkan puzzle hidupnya. Mungkin nasehat ibu, kondisi keluarga kami, kedekatan antara keluargaku dan keluarganya adalah pelajaran yang berharga baginya dan masa depannya. Kehadiran kami dalam kehidupannya mungkin sekali menjadi salah satu obat mujarab untuk mengharmoniskan keluarganya, untuk meyakinkan niatnya untuk memilih istrinya yang notabene adalah pacarnya tapi ia sempat belum yakin akan pilihan terbaiknya itu dulu. Nyatanya, tak ada kebetulan di dunia ini.

Bengkel Kata

Sebuah kisah yang kutulis pada awal tahun 2006 untuk menghormati seorang kakak yang mengajariku bagaimana kita harus memandang kehidupan fana ini.




Matahari bersinar cukup garang nyaris tak memberi kesempatan sama sekali pada pohon-pohon untuk membantu manusia dengan bayang-bayangnya yang meneduhkan. Aku beringsut sedikit. Mencoba menyembunyikan tubuh mungilku dari sengatan raja siang di bawah sebuah pohon akasia. Kulemparkan pandangan pada anak-anak ‘tetangga’ yang asyik bermain bola. Ah, damainya mereka. Tak perlu memikirkan tugas-tugas kuliah yang menumpuk, besok harus makan apa, apalagi masalah-masalah kenegaraan. Melihat keceriaan mereka, akupun menjadi damai. Bosan dengan pemandangan itu, aku melirik jam dinding besar di depan gedung Pasca Sarjana kampusku. Jam 13.15. Pasti telat lagi, pikirku.
Sosok itupun muncul. Seorang pemuda berkaca mata dengan garis-garis wajah yang keras tapi bisa dibilang lembut memberinya kesan cukup berkarakter, lumayan tinggi tapi juga tidak bisa dibilang gagah, tengah menghampiriku.
“Afwan ya, telat lagi”, Dia memasang wajah semelankolis mungkin. “Lama ya nunggunya?”, imbuhnya.
“Gak kok”, Aku diam sejenak, mencoba menenangkannya. Tapi ya memang watakku, suka menggoda orang. “Gak bentar, maksudnya”.
“Kamu tuh ya…, eh yuk cari tempat yang dingin. Kasihan kan kulit kamu yang hitam itu nanti tambah hitam”
“Huh, enak aja. Mentang-mentang situ putih. Lagian hitam-hitan begini banyak yang mau lho”.
Sesaat, tampak rona kaget di wajah putih itu. Tapi hanya sesaat karena gelegar tawa segera terdengar membahana. Membuatku tersipu-sipu. Abis, sebenarnya aku itu kan orangnya bisa dibilang sangat anti dengan makhluk yang bernama cowok. Tapi gak ada yang tahu dan memang tak perlu tahu. Termasuk dia.
“Iya..iya…percaya kok aku.Ya sudah sekarang kita ke urusan utama. Nih kubawakan semua pesanan kamu”. Namanya Rusdiawan, tapi ia lebih suka memperkenalkan diri sebagi Rusy Adwan. “Biar lebih keren”, katanya tempo dulu. Kami berdua telah menjalin hubungan bisnis membuat dan mendistributorkan aneka accesoris sejak delapan bulan yang lalu. Dia mengkoordinir teman-temannya untuk membuat accessories lalu mencari sales marketingnya, aku salah satu orang yang menjadi ‘korbannya’. Dan inilah kami sekarang dengan rutinitas dua mingguan kami.
Deretan bros karet warna-warni berjajar rapi dalam gulugan perkamen. Demikian halnya dengan bros-bros flannel yang dijajar model horizontal rentengan. Seperti biasa akupun segera disibukkan memilih dan memilah yang terbaik diantara itu semua untuk kubawa pulang dan kudistributorkan ulang.
Diantara kesibukanku itu, aku tak menyadari, beberapa pasang mata dan pasang kaki mungil telah mengerubungi kami berdua.
“Mas, minta uangnya dong!”, Salah satu dari anak SD itu merajuk setengah memaksa.
“Buat apa?”
“Buat beli es. Haus banget nih, Mas”
“Kalo mau gak haus ya jangan main sepakbola. Nanti abis minum, main lagi, terus haus lagi deh!”
“Wes ala Mas! Haus banget nih!”
“Pelit banget sih”, Salah satu yang lain berkomentar.
Pinter, pinter, pujiku dengan gemas dalam hati. Main politik nih mereka. Karena pastinya dalam situasi seperti ini Rusy bakalan sungkan sama aku.
“Lho kok tahu kalo aku pelit?”, Rusy tak mau kalah. Wah, lebih pinter kamu, Mas.
“Cepetan kok, Mas”
“Okelah, Mas akan kasih kalian uang asal kalian bisa jawab pertanyaan Mas, gimana?”, Rusy akhirnya mencoba berdiplomasi.
“Iya deh”. Diplomasi disetujui, dan terjadilah debat kusir yang lucu. Gimana enggak, karena Rusy memberikan soalnya selain mengenai pelajaran mereka juga memberikan soal mengenai pengetahuan umum kontemporer.
“Negara mana yang sedang mencoba merebut Palestina?”
“Israel”, jawab Iqbal, si Tambun, dengan semangat empat lima.
“Hebat! Sering lihat berita ya?”
“Tidak!”
“Lho, terus tahunya dari mana?”
“Lihat mahasiwa demo!”. Mendengar ini aku memegangi perutku yang sudah kaku karena terlalu banyak tertawa. Kulihat wajah Rusy sedikit syok mendengar jawaban barusan, antara percaya dan tidak tentang efek lingkungan terhadap pola fikir anak-anak yang masih polos tersebut.
“Memangnya mahasiswa itu berdemo ke siapa sih Mas?”,Feri, si ikal, bertanya.
“Ya ke pemerintah dan pihak-pihak terkait. Contohnya kalau demo tentang Palestina dan Israel itu, kebanyakan mahasiswa mendemo Israel”
“Kenapa?”
“Karena ia mengambil negara yang bukan haknya”
“Mencuri?”, Ryan yaitu anak yang paling kecil nyeletuk.
“Mungkin”
“Kenapa belum ditangkap?”, tanyanya lagi dengan penuh kepolosan.
“ha… ha… ha…. Kalian ternyata sangat pintar. Untuk yang satu itu kakak juga belum tahu jawabannya. Kita tunggu saja siapa yang akan menagkapnya besok, OK”
Kami semuapun cekikikan berjamaah.
“Mas, uangnya mana? Kami sudah jawab semua soal, sampeyan juga bilang kami pintar kan?”
“Iyaaaa. Mana uangnya?”, yang lain megamini.
“Oke, tapi jawab satu pertanyaan lagi ya?”
“Aduh, capek deh!”, koor kembali terdengar.
“Mau tidak?”. Merekapun berdiskusi dengan cepat.
“Iya wes. Tapi janji lho ya, ini yang terakhir?”
“Deal. Setuju”, si Mas menarik nafas, mengerutkan dahi, dan mata menerawang ke atas, berlagak sedang berfikir keras. ”Siapa nama Presiden pertama Timor Leste?”
Manakala anak-anak polos itu kebingungan, Rusy mensolusikan agar mereka bertanya pada satpam kampus, orang-orang yang sedang duduk-duduk di lapangan itu, atau orang-orang yang sedang ada di dalam mobil parkiran. Wajah yang menggambarkan kebingungan kini berubah kegirangan. Tanpa babibu, mereka melesat saling mendahului.
Tak lama kemudian langkah-langkah mungil itu mendekat dengan antusias.
“Nana Gusmo, Mas!”, seru mereka.
“Heh, Nana Gusmo? Masa’ sih? Coba tanya lagi!”. Diinstruksi demikian, anak-anak itupun menurut. Tak berapa lama merekapun kembali.
“Xanana Gusmao, Ya Mas?”, seru mereka ramai sambil cekikian.
“Wah betul tuh!”.
“Mas, cepetan, mana uangnya?”
“Iya, iya, bentar dong. Kalian tadi kan berdelapan, sekarang kok cuma berenam. Mana yang dua?”, Rusy mencoba mengulur-ulur waktu. Biar anak-anak itu bosan, begitu barangkali ya.
“Tau’. Mungkin masih tanya sama Bapak yang duduk di pojok itu kali Mas.. Iya..iya… betul!”
“Ya sudah. Kita tunggu mereka dulu”. Rusy melirikku. Minta bantuan barangkali. Aku hanya ngakak melihat ekspresinya itu. Mas, mas, sampeyan itu kok serba bisa sih. Study dipercaya jadi asisten dosen, aktif di Lembaga Pers Mahasiswa, aktif mengirim tulisan ke media-media pers, berbisnis, mengajar di LBB, sekarang bertambah pula predikatmu di mataku, yaitu pintar berkomunikasi dan merayu anak kecil. Hebat! Aku yang cewek saja belum tentu bisa.
“Sebentar. Kalian tadi bermain bola Sendiri atau Bersama?”, Jawab Rusy manakala mereka mulai merajuk kembali. Dijawab, “Bersama”.
“Terus, kalian jawab soalnya tadi Sendiri atau Bersama?”. Lagi-lagi dijawab kompak, “Bersama”.
“Kalau begitu, kalian nanti minum esnya sendiri atau bersama?”
“Ya gak tahu lah, Mas”, sambut mereka dengan bibir yang rata-rata manyun.
“Ya harus Bersama dong!”
Tiba-tiba dua orang anak datang berlari disertai nafas yang ngos-ngosan.
“Xanana Gusmao, Mas!”, Mereka menjawab itu dengan wajah sumringah. Tapi segera saja jawaban disambut dengan koor ‘yeee udah kejawab lagi’. Aku kembali tertawa melihat adegan komedi gratis itu.
“Mas, ini siapa?”, Giant yang berbadan terbesar diantara mereka nyeletuk menanyakan aku yang sedang tertawa geli. Ya Ampyun, jadi dari tadi mereka tak menyadari keberadaan sosok yang cantik jelita ini.
“Ini ta? Adikku. Kenapa?”
“Ndak. Tadi kita kirain mbak ini pacar sampean Mas”, Ryan kembali nyerobot menjawab.
“Pacar? Pacar itu apaan sih?”, kejar si Mas.
“Ya itu seperti yang di TV”, Giant angkat suara lagi, nampaknya ia pemimpin kelompok ini.
“Yang gimana?”. Wah, pasti naluri kewartawanannya lagi bermain, batinku.
“Gak tahu deh”, Giant putus asa menjawab.
“Kenapa? Memangnya cocok ya?”, Rusy tersenyum aneh saat menanyakan ini. Dan aku tahu, itu senyuman untuk menggodaku saja, ia tidak serius dengan pernyataannya.
“Yah, cocok sih. Tapi memang adiknya sih”, Ryan mencuri kesempatan lagi.
“Oh, adiknya kok, Rek!”, Giant menoleh ke teman-temannya untuk menegaskan.
Setelah mendapatkan ‘gaji kerja’ dan mengucapkan terimakasih, merekapun bubar dengan tertib sesuai dengan instruksi si Giant tentunya. Sedangkan aku yang semula memilah dan memilih bros seraya menahan tawa refleks memandang pada si Mas gara-gara pernyataan dan pertanyaan barusan. Pada waktu bersamaan Rusy juga sedang menoleh. Mata kami bertemu. Cukup lama. Sampai aku sadar dan menyibukkan diri memilih dan memilah lagi. Suasana tiba-tiba menjadi hening. Yang ada hanya bunyi motor lewat dan kicauan burung gereja serta semilir angin yang menyejukkan. Aku yang dasar sifatnya ramai tidak tahan dengan suasana mencekam begitu.
“Mas, bagaiman kabar mbak Ika?”, Aku mencoba memecah keheningan sambil terus memilah.
“Oh, dia mau nikah tanggal dua Juli besok”, Dia menjawab dengan santai.
“Hah, Bukannya mbak Ika itu calon Mas?”, Aku menghentikan rutinitas sejenak. Mencoba mencari kebenaran di kelam dua bola matanya sebentar kemudian kembali menekuni pekerjaanku yang tertunda. Dia lantas tertawa geli.
“Nggak, lagi Dik. Dia tuh memang adik kelasku yang lumayan akrab sama aku. Tapi ya itu... kami sebatas senior dengan junior, juga sebatas partner kerja dalam bisnis ini”, Ia menjelaskan. Aku mencoba memilah kata-katanya dalam hati. Masa sih?
“Terus, mbak Ika dapat orang mana?”, Aku masih mencoba mengorek.
“Orang Semarang”. Lho kok? Tapi pertanyaanku yang menggantung itu segera terjawab sebelum terlontarkan. “Iya, mbak Ika kan orang Solo. Gimana?”
“Ya, ndak gimana-gimana. Tapi…. bener lho kukirain kalian berdua ada apa-apa. Wajah kalian kan cukup mirip. Aku mencoba membela diri.
“Dasar”, Dia berujar. Kamipun tersenyum.
“Mas,…..”
“Hem?”, Dia agak kaget serta terkesan takut mendengar kata-kataku yang terputus. Dan untuk mengalihkan gambaran hatinya itu, ia mengutak-atik HP serta flash disk-nya. Matanya seakan-akan menekuri dengan teliti setiap detail kedua barang mungil tersebut.
“Apa? Kenapa tidak diteruskan?”, Dia tetap asyik dengan HPnya kali ini. Ah, ngomong tidak ya? Tapi aku tidak mau ada misunderstanding nantinya.
“Emm…., sungguh ya ……omongan sampeyan tadi…, kita tidak hanya partner bisnis”, Aku berhenti sejenak karena kutangkap gerak-geriknya yang semakin kikuk. Tapi, ini harus di-clear-kan. “Tapi juga hubungan kakak adik?!”
Dia menoleh kaget, lalu tertawa renyah. Seakan ada beban berat yang baru saja dipindahkan dari benaknya. Kalau saja dia tahu bahwa aku juga merasa demikian. Karena aku tak ingin ada kisah cinta diantara kami. Karena aku belum ingin ada kisah cinta lagi di lembaran hidupku.

Bengkel Kata

Sepenggal cerita yang kutulis pada tahun 2006 sbg bukti keprihatinan pada teman-teman IAINQ


MELIHAT DIRIMU LEBIH DEKAT

Aku membanting pintu kos-kosan. Berjalan dengan gusar dan segera menjatuhkan tubuh penatku ke kasur yang tidak bisa dikatakan empuk lagi itu.
“Kenapa sih datang marah-marah begitu?”, Dina yang sedang membaca buku Filsafat Aliran ikut-ikutan gusar. Marah kali, ya. Kutatap Dina sekilas lalu kembali berpaling. Masa bodo! Aku lagi sebel… gak mau bicara…
“Oi, aku kan tanya, kok dicuekin?”, Dina protes.
“Please dech Din, aku lagi gak mau ngomong. Oke?”
“Terserah kamu dech. Dan ingat jangan sampai kemarahan kamu itu bikin konsentrasiku rusak!”.
Huh… sebel… sebel….

********-------------------------------------------********
“Hi, aku Nadia. Kamu?”, Aku mengulurkan tangan kepada gadis berjilbab yang pakaiannya sama denganku, baju kebesaran MABA gitu lho.
“Saya Annisa”, Tangan Annisa menyambut uluran tanganku. “Kamu anak baru juga ya?”, Dia menambahkan. Aku menngangguk mantap.
“Ambil jurusan apa?”, Aku memulai percakapan yang sebenarnya bagiku hanya basa-basi.
“Aqidah Filsafat”
“Oh ya? Sama dong. Aku juga”, Aku mulai tertarik untuk ngobrol lebih lanjut. “Memang apa motivasi kamu masuk jurusan ini? Kan orang-orang bilang kalau jurusan ini rawan dengan pemikiran-pemikirannya yang aneh itu?”, Heran juga aku melihat anak sekalem dan sealim dia masuk Filsafat.
“Banyak sih. Pertama, karena aku memang suka dengan filsafat itu Sendiri. Kedua, aku suka dengan para pemikir. Ketiga, aku ingin membuktikan bahwa dengan aqidah aku yang kuat, kita tidak akan mudah terjebak dengan pemikiran-pemikiran yang kamu bilang barusan”, Annisa tersenyum saat menyebutkan alasan terakhirnya tadi.
Begitulah kami memulai persahabatan kami di kampus biru. Ada banyak kecocokan diantara kami berdua. Dan akhirnya teman-teman menjuluki kami berdua Si Cat Dog, tokoh kartun yang diputar di salah satu Tv swasta itu lho, masa kalian gak tahu sih?. Alasan mereka memanggil aku dan Annisa begitu ya karena bisa dibilang dimana ada Nadia di situ ada Annisa, dan begitu pula sebaliknya.

*******------------------------------------------*******
Sebulan sudah aku di kampus biru. Banyak sekali hal-hal baru yang kudapat di sini, baik dari sisi ipteknya maupun dari sisi sosialnya. Dan selama itu, sudah seabrek aktivitas yang aku dan Annisa ikuti, antara lain HMJ (Himpunan Mahasiswa jurusan), LPM (lembaga Pers Mahasiswa), IQMA ( Ikatan Qori’ Qori’ah Mahasiswa) yang meskipun hanya pelatihan MC dan kegiatan-kegiatan sosialnya saja yang kami berdua ambil, organisasi ekstra kampus, dan lain sebagainya. Hingga suatu hari……..
“Nis, aku kemarin diajak Mas Fandi ikutan teater. Dan kayaknya aku tertarik nyobain dech”, Aku bercerita dengan semangat 45.
“Oh ya? Bagus donk. Kan kamu dari dulu ingin bisa main drama dan baca puisi di Balai Seni, ini merupakan langkah awal yang bagus menuju cita-citamu itu”, Annisa memberiku semangat. Namun binar matanya itu meredupkan binar mataku.
“Maksud kamu.. kamu gak bakal ikut teater?”, Aku mengucapkannya dengan memasang wajah memelas. Sejenak Annisa berfikir, lalu…
“Emm, begini Nadia. Bukannya aku menolak ikut. Tapi teater itu kan latihannya bisa sampai malam-malam. Selain itu aku belum terbiasa dengan cara pandang dan cara bergaul anak-anak teater”.
“Jadi menurutmu anak-anak Teater itu bukan anak-anak baik?”, Aku mulai tersulut.
“Lho aku kan gak bilang begitu. Kamu jangan tersungging donk”, Annisa mencoba mencairkan suasana. Tapi toh gak berhasil.
“Begini saja. Aku akan temani kamu di saat pementasan-pementasan. Jangan sampai karena aku cita-citamu itu terhalangi. Oke? Aku akan selalu mendukungmu kok”. Melihat kesungguhan dan usahanya untuk mencairkan emosiku yang telah membatu, akupun luluh juga.
“Begitukah? Oke, tapi janji ya? Kita kan Cat Dog!”
“Dasar”, Annisa meninju bahuku dan kami lantas tertawa Bersama.

********---------------------------------------********
Setahun sudah persahabatan kami terjalin. Bagaikan bunga-bunga yang tumbuh di musim semi dan akan gugur di nusim gugur, persahabatanku dan Annisa mulai merenggang, meskipun tidak bisa dikatakan putus..tus..tus sih. Kerenggangan itu tercipta tanpa kami sadari seiring dengan semakin banyaknya aktivitas-aktivitas kami berdua yang kian berbeda. Aku yang tomboy cenderung bergabung dengan kelompok PA (Pecinta Alam), teater, dan pencak silat, disamping kegiatan-kegiatan yang pernah kuikuti bersama Annisa di bulan-bulan pertama kami di kampus biru. Sedangkan Annisa lebih cenderung pada kajian-kajian kerohanian, kajian keintelekualan, dan lain-lain.
“Assalamu’alaikum, Nadia. Maaf ya aku telat. Kamu sudah lama nunggunya?”, Annisa berkata di sela nafasnya yang ngos-ngosan.
“Kum salam, Ustadzah. Gak bentar kok nunggunya”, Aku membuat senyum simpul sambil segera menambahkan. “Kan cuman setengah jam!”.
“Iya, iya, afwan. Tadi kan aku harus ngisi acara di musholla al Muayyad sebelah kampus kita itu lho. Mauku sich kucancel tapi kan gak enak, habis aku sudah terlanjur janji sih. Yuk berangkat. Nanti kamu bisa telat pentas lho”, Annisa menyeretku yang menggerutu dalam diam. Huh, bisa-bisanya nih anak berargumen sepanjang itu di saat seperti ini. Lagian aku kan sudah pasti telat!!!

*******----------------------------------------------*******

INTRIK MALAM
Pagi memaksaku diam
Dengan keangkuhan mataharinya yang merayap
Dengan kicau burungnya yangmengusir
Dengan kesegarannya yang menyelusup
Dan dicinta
Meski begitu, aku tak bisa membenci pagi
Karena dengan pagi, maka aku dirindu.



Plok…plok…plok….
Tepuk tangan penonton bergemuruh. Aku turun dari panggung dengan menggigil. Antara gembira, kaget, malu, dan kepuasan bercampur menjadi satu menciptakan sensasi yang menyelusup dalam tiap-tiap aliran darahku. Samar kulihat Annisa berlari mendekat dan merangkulku.
“Wah, kamu hebat Nadia! Sungguh! Aku sampai menangis gembira”, Annisa berkali-kali memujiku. Namun tak lama kemudian, aku melihat sosok sangar Mas Fandi mendekat. Sebagian wajahnya yang tertutup rambut gondrong itu nampak gusar.
“Selamat ya. Puisimu tadi cocok sekali untuk menutup drama kita”
“Makasih, Cak”, Aku menjawab hati-hati. Karena aku tahu, pasti Mas Fandi belum selesai bicara.
“Tapi ingat, jangan terlambat lagi. Tindakanmu tadi sangat tidak professional, mengerti?”, Akhirnya muncul juga kalimat itu.
“Baik, Cak”, Kutatap nanar sosok Mas Fandi yang menjauh .
“Maaf ya Nad. Gara-gara aku kamu harus terlambat”,Annisa merasa tidak enak.
“Ah, biasa aja kok. Eh iya ada yang mo kenalan nih”, Aku menarik tangan Annisa ke sudut ruang dimana di situ berdiri seorang pemuda yang cakeplah menurutku.
“Nis, Ini Mas Aldy. Dia anak FISIP yang aktif di teater juga”, Aku mengenalkan Annisa. “Cak, katanya mo kenalan? Kok bengong gitu?”
“Eh iya. Aku Aldy. Kamu Annisa kan?”, Aldy mengulurkan tangan.
“Saya Annisa”, Annisa tersenyum sopan, tapi anehnya dia tidak menanggapi uluran tangan Aldy dan hanya melipat tangannya ke dada. Aku yang menangkap kerikuhan sikap Aldy berusaha berinisiatif.
“Iya nih, Aldy. Keenakan dong kamu pegang-pegang tangan Annisa yang lembut ini. Iya gak Nis?”
“Oh maaf kalau gitu. Iya ya, betul juga kamu, Nad!”, Aku benar-benar jadi sangat tidak enak dengan jawaban Aldy.
“Nadia, udah jam 22.00 nih. Yuk pulang, nanti ibuku cemas”, Annisa memecah keheningan yang tiba-tiba datang.
“Gitu ya? Kalo gitu biar aku anterin deh!”, Aldy menawarkan bantuannya.
“Wah beneran nih? Kebetulan kalo gitu”, Aku sigap menjawab tawaran itu.
“Tapi…”, Annisa hendak menolak tapi aku dan Aldy segera ngeloyor menuju mobilnya yang terpakir manis.

*******--------------------------------------------*******

“Annisa, kenapa sih kamu semalem? Aldy itu kan baik. Dia itu udah lama lho minta dikenalin sama kamu. Mana pakai acara nolak salaman dan diam-diaman selama di mobil lagi”, Aku mencerocos menumpahkan kekesalanku.
“Maafkan aku, Nad. Tapi aku memang tidak bisa bersalaman dengan anak-anak cowok seperti dulu. Mereka itu bukan muhrim kita!”, Annisa menjelaskan dari seberang sana.
“Akunya sih fine-fine aja. Tapi Aldy?”
“Nad, harusnya kukatakan ini sedari dulu. Aku merasa tidak nyaman setiap kali aku melihat kamu bergandengan tangan, tertawa-tawa, dan berboncengan bersama anak laki-laki. Rasanya aku miris sekali, Nad”
“Nis, itu urusanku. Mau bergaul sama siapa, mau berpakaian seperti apa, itu semua hakku. Kamu gak usah ikut-ikutan. Aku capek kamu atur begituan! Kamu pikir kamu siapa? Kamu sudah berubah Nis!”, Aku berteriak-teriak. Enak betul dia melarang ini itu. Memangnya dia siapa?
“Astaghfirullah Nad, maaf kalau kamu tersinggung, tapi aku tak bermaksud begitu. Nad, aku sayang kamu. Aku tak mau kamu berubah lebih jauh dari saat ini”, Ada nada sedikit putus asa dalam kata-kata Annisa. Tapi aku yang telah lelah dengan segala nasehat-nasehatnya tetap bersikeras kalau akulah yang benar. Aku mau bebas. Terserah kalau dia tetap berpegang pada prinsipnya yang aneh itu. Terserah! Kututup HP dan kulemparkan ke kasur.

*********---------------------------------------------*********

“Sejak saat itu, aku berusaha menghindari Annisa”, Aku membuka suara kepada Dina pada malam itu.
“Oh begitu. Pantesan kamu tadi datang dengan muka kusut begitu. Pakai acara marahan lagi”, Dina berusaha mengambil hatiku.
“Dan sekarang sudah dua tahun dong kamu gak ketemuan lagi sama dia?”
“Iya awalnya. Tapi ternyata dunia ini memang sempit. Seminggu yang lalu aku berkenalan dengan seorang dokter ganteng”
“Dan kamu fall in love kan?”Dina menyela menggodaku. Digoda begitu, aku malu juga sih.
“Iya. Di pandangan pertama bahkan”, Aku mengambil nafas panjang. Lantas melanjutkan “Dan siang tadi aku baru tahu ternyata dia adalah kakak sepupu Annisa”.
“Hah? Wah kayak sinetron, nih. Terus gimana?”
“Uh, dasar. Emang gue ini apaan?”, Kutimpuk Dina dengan bantal dan dia segera ngacir ke sudut kamar.
“Eits, gak boleh ngamuk ya! Nanti kalau kehilangan teman curhat terbaik, mati tak bernafas kamu!”
“Emang ada mati yang bernafas?”, Aku merengut.
“Duh, sensitifnya. Iya-iya lagi gak bisa dicandain nih?”, Dina meringis tapi segera mendekatiku dengan mimik serius. “Terus gimana? Kamu tahunya dari mana?”
“Meski baru seminggu kenal tapi kami cepat akrab. Dan ia ingin serius denganku. Makanya dia ingin mengenalkanku pada sepupu terbaiknya”, Aku menahan nafas lagi.
“Dan akhirnya kamu dan Annisa ketemuan, gitu?”
“Nggak juga sih. Annisa waktu itu sedang sibuk mengisi acara di salah satu sekolah SMA. Jadi gak bisa ketemu”.
“Lha, kalo begitu gimana tahunya?”
“Ih, kamu itu mau diceriatin apa ndak sih? Nyela terus”
“Iya-iya maaf. Terus-terus ….?”
“Aku bertanya padanya, siapa nama sepupunya itu. Kali aja aku kenal. Dan dia pun menjawabnya. Duh, kayak kesambar halilintas aja”.
Kami berdua saling diam. Di luar gerimis mulai turun. Dina merangkak menutup jendela lalu kembali lagi duduk di hadapanku. Tangannya dilingkarkan di depan lututnya yang ditekuk. Sementara itu malam semakin larut.
“Din, apa yang harus aku lakukan?”, Meskipun Dina setahun lebih muda dariku, tapi dalam hal beginian dia lebih dewasa dariku, makanya aku percaya dia bisa memberiku jalan terbaik.
“Boleh aku tanya? Bagaimana perasaanmu terhadap si laki-laki itu setelah kamu tahu dia adalah sepupu Annisa?”, Dina sang aktivis kampus sejati sedang menginterogasiku.
“Perasaanku untuk Syahid sudah tak terbendung lagi. Apalagi kami telah sepakat akan menikah tahun depan, setelah aku diwisuda”, Aku menghela nafas. “Sedangkan perasaanku pada Nisa sekarang ……. sebetulnya sudah lama aku menyesali sikapku terhadapnya dulu. Aku ingin minta maaf. Tapi aku terlalu tengsin untuk melakukannya. Lagipula kami tidak pernah bertemu lagi”.
“Kenapa begitu? Jangan tunda-tunda lagi niat baikmu itu, seperti niatmu untuk berjilbab sebulan yang lalu. Aku percaya Annisapun menginginkan hal yang sama. Tapi mungkin ia merasa takut dan segan”.
Mendengar penuturan Dina aku mulai terhisak. Iya, mengapa aku begitu egois? Aku begitu tega terhadap Annisa yang begitu baik. Bukankah dia hanya berusaha menjaga izzahnya sebagai muslimah. Uh, memang aku yang terlalu bodoh saat itu.
“Kamu gak usah ragu. Kamu tidak usah memulai dari awal, cukup meneruskan dan memperbaiki hubungan kalian sebelumnya. Toh kamu sudah tahu kan mengapa Annisa bersikap begitu? Kamu sendiri sekarang ini begitu juga kan?Allah saja Maha Pengampun, masa kita tidak mau meneladani-Nya?”
Mendengar itu aku semakin terisak. Aku berjanji besok aku akan mencari Annisa dan meminta maaf. Aku akan berusaha lebih bijak untuk melihat seseorang.

Kamis, 16 April 2009

TIPS BAGI ORANG-ORANG YANG “MANDUL”

TIPS BAGI ORANG-ORANG YANG “MANDUL”

Judul : Jangan Mau Gak Nulis Seumur Hidup
Penulis : Gola Gong.
Penerbit : Maximalis.
Editor : Nurchasanah.
Tebal : 151 halaman
Harga : Rp. Rp.35.000

Sejak zaman dulu atau bahkan sekarang, cita-cita menjadi seorang penulis tidak sepopuler seperti cita-cita menjadi insinyur, dokter, ahli hokum, atau ekonom. Tapi anehnya, sampai kini masih banyak saja orang yang berminat untuk menulis buku. Padahal menulis (gagasan) itu perlu kaidah ketat dan tidak asal seperti saat seseorang berbicara. Menulis harus logis dan ada misi kebaikan, bukan sekedar mengejar royalty, karena dibalik teks tersirat pengalaman kaya penulis yang tercecer lagi tak semuanya bisa diceritakan teks. Tulisan akan dibaca dan kadang dipercaya lalu diterapkan pembacanya. Karenanya, menulis tidak boleh ambigu dan tak bernalar. Tapi bukan berarti kita jadi takut menulis. Sebaliknya, kita harus termotivasi untuk terus menulis, bukankah “ SAmpaikan walau satu ayat?”. YA, minimal, sekali seumur hiduplah kita melakukan dakwah bil qolam ini.
Setidaknya, demikianlah pesan yang ingin disampaikan oleh Gola Gong dalam bukunya “Jangan Mau Gak Nulis Seumur Hidup” ini. Gola Gong sendiri diidentikkan dengan penulis fiksi handal negeri ini. Kebnyakan tema yng diusungnya adalah human interest yang tak lain dan tak bukan adalah hasil pengalamnnya berpetualang menjelajah bumi Indonesia dan beberapa Negara tetangga. Dengan segala keterbatasannya (Gola Gong pernah diamputasi tangannya sehingga sempat dipandang sebelah mata oleh banyak orang) penulis pernah melalung buana di berbagai media, baik media cetak maupun elektronik.

Buku ini adalah buku yang hebat dan penuh surprise. Sekilas, mungkin banyak dari kita yang mengira, bahwa buku ini hanyalah buku tentang kepenulisan, nyatanya tidak. Buku setebal 151 halaman ini juga banyak bertutur tentang edukasi keluarga, manajemen lembaga, motivasi, biografi, dan lain sebagainya. Membaca buku ini memotivasi kita untuk berani memulai dan terus menulis. Dada sampai terasa sesak, penuh dengan gairah dan semangat untuk bepergian, memanajemen, lalu menuangkannya dalam goresan-goresan kata sebagaimana yang pernah dilakukan Gola Gong. Teori-teori penulisan diselipkan secara berulang-ulang sehingga membuat pembaca tidak mudah lupa. Dengan bahasanya yang lugas, santai serta banyaknya contoh riil membuat buku ini tidak terkesan menggurui. Yang jelas, buku ini dapat menginspirasi para pembacanya untuk berani banyak berbuat, semisal membangun Rumah Dunia.
Tak ada salahnya saya merekomendasikan buku ini sebagai bacaan wajib bagi calon penulis. Karena menulis butuh kitab sakti sebagai pedomannya.Banyak kiat terjun di dunia kepenulisan dan resep menulis yang bisa didapat. Meski bukan resep jitu, karena resep jitu pintar menulis ada 3, yaitu Menulis, Menulis dan Menulis. Lalu, kenapa anda masih baca tulisan ini kalo mau jadi penulis? Ya nulis dong mulai sekarang!

Rabu, 14 Januari 2009

GLOBAL WARMING; MENGKADALI AMERIKA


“Climate is an ill-tempered beast, and we are poking it with sticks.”
~ Professor Wally Broecker, Columbia University

Tak bisa dipungkiri, inilah isu sains paling agung abad ini. Tak cuma berkutat soal ilmiah, ia juga bermain di segi ekonomi, sosiologi, geopolitik, sampai gaya hidup. Sayangnya, walau telah dideteksi sejak awal, isu ini baru mendapat coverage luas di tahun 1990-an. Di Inggris, The Times dan Guardian membahas soal ini baru sejak tahun 1989—-tetapi masih berkutat soal perdebatan ilmiah.

Global warming disebabkan karena peningkatan gas rumah kaca—-seperti karbon dioksida—-dalam skala masif di atmosfir sebagai akibat dari pembakaran bahan bakar fosil dan deforestasi. Akibatnya, temperatur global naik 0,6ºC dan permukaan air laut naik 20 cm. Kalau dibiarkan saja, tahun 2100 nanti temperatur global naik antara 1,4ºC hingga 5,8ºC dan permukaan laut bisa bertambah sampai 80 cm.

Kenapa bisa begitu? Bumi, sepanjang yang saya tahu, merupakan kesetimbangan antara energi (panas) yang dipancarkan matahari dan energi yang dilepaskan kembali ke luar angkasa. Secara alamiah, sekitar sepertiga energi dilepaskan kembali, sementara sisanya diserap atmosfir, daratan, dan lautan. Inilah yang membuat bumi menjadi hangat. Tapi, ketika komposisi atmosfer berubah sebagai akibat penambahan karbon dioksida, maka temperatur bumi pun ikut berubah.

Pada tahun 1958 dilakukan pengujian kadar CO2 di pegunungan Manua Loa, Hawaii. Hasilnya kandungan CO2 di atmosfir meningkat jadi 316 ppmv—-dibandingkan 200 ppmv di jaman es dan 280 ppmv di jaman sebelum industrialisasi modern. Belakangan, kadar CO2 sudah meningkat jadi 370 ppmv dan diperkirakan ada penambahan sekitar 160 milyar ton CO2 di atmosfir dalam 100 tahun terakhir.

Oke, cukup. Ini bukan bidang keahlian saya, jadi pembahasan teknisnya dihentikan. Kita bahas saja soal ekonopolitik global warming.

Well, kalau boleh melempar kesalahan, tersangka global warming adalah industrialisasi yang dilakukan negara-negara maju, terutama Amerika Utara dan Eropa. Mereka menyumbang sekitar 22 milyar ton karbon per tahun—-terutama dari konsumsi BBM, industri, dan penebangan hutan. Di antara negara maju, penyumbang emisi terbesar adalah Amerika (36,1%) disusul Rusia (17,4%), Jepang, dan negara Eropa lainnya dalam persentase kurang dari 10%. Bandingkan dengan negara-negara berkembang seperti Asia, Amerika Selatan, dan Afrika yang “cuma” menyumbang sekitar 4 milyar karbon per tahun—-itu pun bukan dari industri, melainkan perubahan penggunaan lahan.

Dus, masalah ekonopolitik muncul karena negara-negara berkembang punya hak dan keinginan untuk meningkatkan standar hidup mereka. Mau tak mau mereka akan mengkonversi hutan, menggalakkan industrialisasi, yang pada akhirnya akan menyumbang emisi lebih banyak ke atmosfir bumi. Sementara di sisi lain, negara-negara maju ngotot menekan agar hal-hal semacam ini ditekan—-seolah-olah seperti melempar tanggung jawab.

Lucunya, walau 186 negara sudah sepakat untuk meratifikasi Protokol Kyoto, Amerika malah mangkir. Padahal Amerika punya reputasi penyumbang emisi terbanyak. Runyamnya lagi, Amerika justru yang paling santer berkoar soal global warming dan menyeru negara-negara berkembang supaya jangan mengeksploitasi hutan mereka. Maklum, hutan di Amerika sudah bablas dan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil sama saja mematikan perekonomian mereka. Kalau sudah begini, ibaratnya tetangga kita enak-enak memanggang ayam, kita yang kena asapnya. Orang Jawa bilang, “gelem nangkane ora gelem pulute.”

Akan tetapi, sebenarnya situasi ini melahirkan permintaan dan penawaran (baca: peluang bisnis). Andaikata saja kita mau “berbisnis”, pemerintah sebenarnya bisa mengajukan proposal clean development mechanism (CDM) sesuai ratifikasi Protokol Kyoto. Kita tahu bahwa negeri ini punya hutan yang cukup luas. Pemerintah juga telah bekerja keras menekan penebangan liar dan menggalakkan revitalisasi lahan perhutanan.

Menteri Kehutanan dulu pernah berencana menagih insentif dari negara-negara maju sebesar Rp 6 trilyun karena Indonesia tidak menebang 5,5 juta meter kubik hutan per tahun. Nilai itu terhitung konservatif karena cuma menghitung nilai guna (use value) kayu semata, belum termasuk nilai lain yang jauh lebih besar. Tapi sejauh mana kelanjutannya, saya belum tahu.

Kalau mau, pemerintah sebenarnya bisa menegosiasikan pelestarian hutan kita untuk “ditukar” dengan pelunasan hutang luar negeri, atau investasi pembangunan infrastruktur, atau pengiriman pelajar-mahasiswa Indonesia ke luar negeri, atau opsi lainnya yang bisa menguntungkan bangsa ini jangka panjang.

Brazil cukup berhasil menjual “carbon credit” kepada negara-negara industri sebagai kompensasi karena sudah menjaga kawasan hutan Amazon. Hitung-hitungan Protokol Kyoto, uang yang mengalir ke negara-negara seperti Brazil per tahun minimal $150 milyar. Ongkos ini terhitung “murah” karena kerugian atas efek global warming disinyalir mencapai $8 trilyun per tahun.

Mumpung sekarang Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi PBB mengenai perubahan iklim dengan tamu dari sekitar 180 negara, barangkali ini momen yang tepat. Jangan sampai anggaran perhelatan yang mencapai Rp 29 M itu menguap begitu saja tanpa membawa keuntungan buat bangsa ini.

Dilihat dari sudut manapun, negara berkembang seperti kita jelas kalah pintar dengan negara-negara maju seperti Amerika. But plis deh, jangan bego-bego amat gitu loh. :)

taken from: http://nofieiman.com/2007/12/